Impian Sesungguhnya Mbappe Yang Akan Pindah Ke Real Madrid

Drhairloss.co – Penyerang PSG, Kylian Mbappe, siap mencari tantangan baru pada musim 2021/2022 mendatang. Real Madrid diyakini bakal menjadi klub impian bagi pemain berusia 21 tahun.

Kylian Mbapee sejak lama menjadi incaran banyak klub papan atas Eropa. Namun, dia memilih bertahan di PSG dan menunggu momen tepat untuk pindah ke klub lain.

Mbappe

Musim 2020/2021 menjadi musim keempat pemain timnas Prancis itu bersama PSG. Dan, ini sekaligus menjadi musim terakhirnya bersama final Liga Champions 2019/2020. Kylian Mbappe sudah memberitahu klub bahwa dia ingin pindah.

Kylian Mbappe bergabung dengan PSG pada 2017 lalu. Awalnya, PSG meminjamnya dari Monaco selama satu musim. Setelah itu, PSG harus membayar 180 juta euro untuk bisa membelinya secara permanen.

Real Madrid, Klub Impian Kylian Mbappe

Kabar bakal hengkangnya Kylian Mbappe dari PSG menjadi angin segar untuk Real Madrid. Sebab, Los Blancos sejak lama jatuh hati padanya. Zinedine Zidane tidak pernah menutupi bahwa dia kagum pada Mbappe.

Jurnalis asal Prancis, Julien Laurens, menilai transfer Kylian Mbappe ke Real Madrid bakal menjadi momen penting bagi kedua pihak. Ini adalah transfer impian, baik bagi Real Madrid maupun Kylian Mbappe.

“Saya pikir jika Kylian Mbappe pindah ke Real Madrid, itu akan menjadi impian besarnya,” kata Julien Laurens kepada ESPN.

Laurens sudah mengikuti karir Kylian Mbappe sejak lama. Dia tahu betul bahwa pemain yang membawa Prancis juara Piala Dunia 2018 itu memendam mimpi pindah ke Real Madrid, klub pernah disinggahi saat kecil.

“Di Real Madrid lah dia selalu ingin bermain, ke Real Madrid lah dia pergi saat berusia 11 tahun karena mereka mengundangnya untuk berlatih dengan tim junior mereka,” ucap Julien Laurens.

Hanya Menunggu Waktu

Sama seperti Kylian Mbappe yang sejak kecil ingin membela Real Madrid, Julien Laurens menilai hal sebaliknya juga terjadi. Real Madrid sangat ingin merekrut Mbappe sejak karena karena mereka sadar akan talentanya.

“Mbappe sangat bagus sehingga Real Madrid ingin menandatanganinya saat itu [usia 11 tahun]. Tidak ada keraguan pada titik tertentu dia ingin pergi ke Bernabeu dan bermain di sana,” katanya.

Sejumlah sumber memprediksi jika transfer Kylian Mbappe bakal menguras anggaran Real Madrid. Paling tidak, mereka harus menyiapkan dana hingga 300 juta euro demi membawanya dari Parc des Princes.

 

Baca juga: jadwal bola terbaru

Kegagalan Juventus Dalam Meraih Juara

Juventus seharusnya merayakan gelar juara Serie A 2019/20 jika bisa mengalahkan Udinese, Jumat (24/7/2020) dini hari WIB. Sialnya, justru Juve yang menelan kekalahan memalukan (1-2).

Juve unggul lebih dahulu lewat gol Matthijs de Ligt di menit ke-42, tapi gol ini bukan berarti Juve tampil lebih baik. Babak pertama justru berjalan seimbang, Udinese pun beberapa kali mengancam.

Di babak kedua, Udinese bangkit melawan dan bisa mencetak gol balasan dengan cepat. Juve langsung berusaha mendominasi lagi, tapi mereka hanya bisa melepas tembakan jarak jauh.

Lalu, ketika pertandingan tampak akan berakhir imbang, Juve justru kebobolan di menit tambahan. Serangan balik Udinese dengan cepat, dituntaskan Fontana dengan baikKegagalan Juventus Dalam Meraih Juara

Hasil ini berarti Juve harus menunggu sampai pertandingan berikutnya untuk mengamankan gelar Serie A. Memang kondisi tidak terlalu mengkhawatirkan, Atalanta tertinggal 6 poin di peringkat kedua.

Selengkapnya di bawah ini ya, Bolaneters!

Hanya soal waktu

Kekalahan ini dinilai tidak akan mengubah banyak hal. Juve masih memimpin, hanya masalah waktu. Mereka memimpin dengan 80 poin dari 35 pertandingan, unggul 6 poin dari Atalanta (74).

Si Nyonya Tua punya kesempatan mengamankan trofi saat menjamu Sampdoria, Senin (27/7/2020) dini hari WIB mendatang. Jika menang, Juve bakal melanjutkan dominasi mereka di Serie A sejak bertahun-tahun silam.

Tercatat, pada 23 Juli 2020 kemarin, Juve merayakan dominasi di Serie A selama 3000 hari. Juve merajai Italia dalam delapan tahun terakhir, dan bakal segera mencapai tahun kesembilan.

Ronaldo di mana?

Selain soal perayaan gelar yang tertunda, kekalahan ini pun menyisakan satu pertanyaan besar: Di mana Cristiano Ronaldo?

Sebagai megabintang, pada momen seperti inilah Ronaldo diharapkan bisa jadi pembeda. Sayangnya dia gagal berbuat banyak, gol Juve justru datang dari seorang bek tengah.

Memang kesulitan Ronaldo tidak bisa disalahkan pada dirinya sendiri. Ada masalah pada taktik Maurizio Sarri, yang dinilai tidak bisa memaksimalkan potensi kapten Portugal ini.

Baca Juga Tentang: Euro 2020

Bagaimanapun, Ronaldo jelas perlu memperbaiki performanya, khususnya ketika Juve memulai kembali perjuangan di Liga Champions nanti.

Juara Liga Tercepat Liga Top Eropa

Liverpool memastikan diri menjadi juara Premier League 2019/2020. Kepastian itu didapat setelah Manchester City menelan kekalahan dari Chelsea pada laga pekan ke-31.

The Citizens menelan kekalahan 1-2 ketika berkunjung ke markas Chelsea di Stamford Bridge. Dua gol Chelsea yang dicetak oleh Christian Pulisic dan Willian hanya akan dibalas Kevin De Bruyne.

Dengan hasil ini, The Citizens kini memiliki poin 63, atau tertinggal 23 poin dari Liverpool. Dengan tujuh pertandingan tersisa, perolehan poin The Reds sudah tak terkejar lagi.

Juara Liga Tercepat Liga Top Eropa

Bagi Liverpool, ini merupakan gelar juara pertama mereka di era Premier League. Terakhir kali klub Merseyside itu juara liga adalah pada 1990 silam.

Saat menjadi juara, Liverpool berhasil mencetak rekor baru di Premier League. Mereka menjadi tim tercepat yang bisa jadi juara setelah menyisakan tujuh pertandingan.

Lantas bagaimana pencapaian Liverpool tersebut jika dibandingkan dengan tim lainnya di lima liga top Eropa. Berikut ini rangkumannya seperti dilansir Soccerway.

Premier League: Liverpool 2019-20 (7 Laga)

Dua tahun lalu Manchester City asuhan Josep Guardiola memenangkan Premier League dengan lima pertandingan tersisa. Itu menyamai pencapaian Manchester United (1907-08 dan 2000-01) dan Everton (1984-85) di kasta tertinggi sepak bola Inggris.

Namun Liverpool, yang berada di urutan keempat ketika City memenangkan gelar tersebut dengan 100 poin, berhasil memecahkan rekor tersebut pada musim ini.

The Reds hanya kehilangan dua poin dari 27 pertandingan dan tidak tersentuh kekalahan sampai hari terakhir bulan Februari.

Dua tahun lalu Manchester City asuhan Josep Guardiola memenangkan Premier League dengan lima pertandingan tersisa. Itu menyamai pencapaian Manchester United (1907-08 dan 2000-01) dan Everton (1984-85) di kasta tertinggi sepak bola Inggris.

Namun Liverpool, yang berada di urutan keempat ketika City memenangkan gelar tersebut dengan 100 poin, berhasil memecahkan rekor tersebut pada musim ini.

The Reds hanya kehilangan dua poin dari 27 pertandingan dan tidak tersentuh kekalahan sampai hari terakhir bulan Februari.

Seharusnya tidak mengherankan kalau PSG bisa masuk daftar ini. Sebab, mereka sangat mendominasi di sepak bola Prancis.

Ini adalah juara keempat PSG secara beruntun dan disegel 62 hari sebelum akhir musim pada 13 Maret dengan kemenangan 9-0 atas Troyes. Ini merupakan kemenangan tandang terbesar dalam sejarah kompetisi.

PSG menyelesaikan kompetisi dengan keunggulan 31 poin atas Lyon dan AS Monaco dan memiliki selisih gol +83.

Bundesliga: Bayern Munchen 2013-14 (7 Laga)

Bayerm Munchen berhasil meraih treble winners pada musim 2012-13 bersama Juup Heynckes. Namun, Bayern melakukan pergantian pelatih pada musim berikutnya.

Di bawah asuhan Josep Guardiola, Bayern berhasil mengunci gelar Bundesliga pada 25 Maret. Mereka dipastikan sebagai juara untuk ke-24 kalinya.

Itu adalah pertandingan liga ke-52 Bayern tanpa kekalahan. Namun, tim asuhan Guardiola itu hanya meraih satu poin dalam tiga pertandingan Bundesliga berikutnya dan tersingkir semifinal Liga Champions.

Serie A: Inter 2006-07 & Juventus 2018-19 (5 Laga)

Juventus memiliki peluang untuk memecahkan rekor ini pada musim lalu. Namun, kekalahan mengejutkan 2-1 dari SPAL – kekalahan kedua mereka dari lima – membuat mereka kehilangan peluang.

Mereka mengunci gelar pada 20 April di kandang Fiorentina – pertandingan terakhir yang dimenangkan Juventus musim itu. Dengan demikian mereka berbagi rekor dengan Inter asuhan Roberto Mancini.

Setelah Juventus terdegradasi karena skandal Calciopoli, Inter tidak punya pesaing nyata pada 2006-07 dan mereka hanya kalah sekali, memenangkan liga dengan keunggulan 22 poin.

La Liga: Real Madrid 1960-61, 1962-63, 1974-75 & Barcelona 1973-74 (5 Laga)

Barcelona dan Real Madrid adalah penguasa La Liga. Kedua tim itu bahkan banyak saling sikut dalam perebutan gelar kompetisi kasta tertinggi sepak bola Spanyol.

Namun, itu tidak selalu terjadi di masa lalu. Alfredo Di Stefano dan Ferenc Puskas berperan penting saat dominasi Madrid di awal 1960-an.

Barcelona tidak terlalu dominan dalam perebutan gelar saat itu. Namun, mereka bisa mencatatkan prestasi yang bagus pada tahun 1973-74, ketika Los Blancos finish di urutan kedelapan.

Pelatih Terboros Di Era 2000an

Menjadi pelatih klub sepakbola tentu saja bukan pekejaan yang mudah. Itu adalah salah satu pekerjaan yang paling menuntut dalam olahraga.

Pelatih selalu dituntut untuk bisa memberikan hasil yang instan. Kalau tidak, mereka pasti akan langsung dipecat.

Pelatih Terboros Di Era 2000an

Jadi merekrut pemain adalah aspek penting bagi pelatih mana pun. Karena itu, pelatih harus mendapatkan pemain yang tepat untuk timnya.

Untuk mendapatkan pemain yang tepat terkadang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Bahkan seorang pelatih terkadang harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar hanya untuk membeli seorang pemain.

Saat ini, rekor pembelian pemain termahal berada di angka 222 juta euro. Ada kemungkinan rekor ini akan bisa dipecahkan di masa depan.

Lantas siapa saja pelatih yang mengeluarkan uang terbanyak sejak tahun 2000? Berikut ini lima teratas seperti dilansir goalku.com.

Massimiliano Allegri – 1,06 miliar euro (95 pemain)

Lima musim yang cemerlang di Juventus menjadikan Allegri sebagai salah satu pelatih terbaik Eropa, dengan lima gelar Serie A dan empat Coppa Italia. Dia juga memimpin Bianconeri tampil di dua final Liga Champions.

Namun, kesuksesan di Turin juga membutuhkan biaya besar. Pelatih asal Italia itu menghabiskan banyak uang untuk pemain seperti Paulo Dybala dan Gonzalo Higuain sebelum Juventus memecahkan rekor untuk merekrut Cristiano Ronaldo pada 2018.

Manuel Pellegrini – 1,13 miliar euro (86 pemain)

Pelatih baru Real Betis ini pernah melatih beberapa klub terbesar di Eropa, seperti Real Madrid dan Manchester City. Karenanya, dia tidak selalu bertanggung jawab atas pembelian pemain.

Waktu Pellegrini di Madrid, Florentino Perez memecahkan rekor transfer untuk merekrut Cristiano Ronaldo dan Kaka pada 2009.

Carlo Ancelotti – 1,29 miliar euro (81 pemain)

Ancelotti adalah salah satu pelatih yang cukup sukses ketika bekerja di luar negaranya. Dia memenangkan gelar liga bersama AC Milan, Chelsea, Paris Saint-Germain dan Bayern Munchen selama kariernya.

Mantan bos Real Madrid itu tentu saja mendapatkan dukungan besar berupa dana transfer. Gareth Bale menjadi rekrutan termahalnya senilai 101 juta euro pada 2013.

Josep Guardiola – 1,33 miliar euro (61 pemain)

Kualitas Josep Guardiola sudah terbukti selama bertahun-tahun. Pelatih Manchester City itu mendapat dukungan finansial, tetapi dia selalu memprioritaskan untuk mendapatkan pemain yang tepat daripada pemain bintang.

Rekrutan Guardiola yang paling mahal adalah Rodri pada musim panas lalu. Gelandang asal Spanyol itu ditebus dari Atletico Madrid senilai 70 juta euro.

Jose Mourinho – 1,63 miliar euro (99 pemain)

Mourinho sudah melatih beberapa pemain paling berbakat di dunia dan memenangkan banyak gelar dalam sepanjang kariernya. Rekrutannya yang paling mahal adalah Paul Pogba pada 2016 dengan memecahkan rekor transfer dunia senilai 105 juta euro saat itu.

Namun, menarik untuk melihat bagaimana manuver Mourinho di Tottenham pada bursa transfer musim panas mendatang. Sebab, ketua klub Daniel Levy bukanlah orang yang boros di bursa transfer.